Connecting for Future Growth: Digital Collaboration in Syariah Finance
Kolaborasi menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi perkembangan industri keuangan di masa depan.
Dalam kegiatan tersebut, PERBARINDO diwakili oleh Ibu Riwandari Juniasti selaku Sekretaris Jenderal PERBARINDO.
Kegiatan ini berlangsung pada pukul 12.00 hingga 15.00 WIB, bertempat di Aria Ballroom, Hotel Tirbrata, Jalan Dharmawangsa II Nomor 1, Jakarta Selatan.
PERBARINDO menyambut positif terselenggaranya kegiatan “Connecting for Future Growth: Digital Collaboration in Syariah Finance” sebagai ruang untuk memperkuat sinergi, membuka peluang, serta membangun ekosistem keuangan yang semakin inklusif dan berkelanjutan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, BPR dan BPRS memiliki kekuatan yang tidak dapat dipisahkan dari perannya di masyarakat, yaitu kedekatan, pemahaman terhadap karakter daerah, local knowledge, relationship, dan kepercayaan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Sementara itu, bank umum memiliki kekuatan dalam hal teknologi, kapasitas pendanaan, infrastruktur, pengelolaan data, serta jaringan yang luas.
Ketika kedua kekuatan ini dipertemukan, kolaborasi tidak lagi hanya berbicara tentang perbedaan skala, tetapi tentang bagaimana setiap institusi dapat saling melengkapi dan menciptakan dampak yang lebih besar.
Connecting for Future Growth bukan sekadar tentang connecting technology, tetapi juga tentang:
- Connecting institutions
- Connecting capabilities
- Connecting opportunities
Digitalisasi menjadi sebuah kebutuhan, namun tidak semua BPR dan BPRS memiliki kemampuan investasi teknologi dan sumber daya yang sama. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi langkah strategis agar transformasi digital dapat berjalan secara aman, efisien, terjangkau, dan memberikan manfaat bagi seluruh ekosistem.
Kolaborasi antara bank umum dan BPR/BPRS diharapkan dapat diwujudkan melalui langkah-langkah nyata, mulai dari pengembangan linkage program, pembiayaan bersama, penguatan payment ecosystem, hingga pemanfaatan teknologi digital, pengelolaan data, sistem pembayaran, dan berbagai peluang inovasi lainnya.


BPR dan BPRS bukan sekadar bagian dari pasar, tetapi strategic partner yang memiliki kekuatan besar dalam membangun hubungan dan kepercayaan dengan masyarakat.
Teknologi dapat mempercepat transaksi.
Namun, kedekatanlah yang membangun kepercayaan.
Ketika teknologi dan infrastruktur bertemu dengan local knowledge serta relationship banking, maka akan tercipta model layanan keuangan yang semakin kuat, inklusif, dan relevan bagi masyarakat.
Terlebih dalam ekosistem keuangan syariah, pertumbuhan tidak hanya diukur dari seberapa besar kita berkembang.
Tetapi juga dari sebuah pertanyaan yang lebih penting:
How many people can grow with us?
Apakah UMKM ikut bertumbuh?
Apakah BPR dan BPRS semakin kuat?
Apakah masyarakat memperoleh layanan yang lebih baik?
Dan apakah kolaborasi yang dibangun mampu memberikan dampak bagi perekonomian daerah?
Karena pada akhirnya, future growth bukan tentang tumbuh sendiri-sendiri, tetapi tentang tumbuh bersama.
Bukan sekadar digitalisasi, tetapi kolaborasi.
Bukan sekadar connecting systems, tetapi connecting opportunities.
Semoga melalui kolaborasi yang semakin kuat antara bank umum, BPR, dan BPRS, dapat tercipta industri perbankan Indonesia yang semakin kuat, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
